mataikan.com
Perikanan tangkap indonesia Nomor Dua di Dunia

Perikanan tangkap indonesia Nomor Dua di Dunia

FAO baru saja mengeluarkan laporan The State of World Fisheries and Aquaculture 2020 atau sering disingkat dengan SOFIA. Laporan ini terbit secara regular setiap 2 tahun dan menjadi rujukan utama bagi para pengambil kebijakan, pengelola perikanan, akademisi, NGO, dan para pihak lainnya terkait kondisi perikanan dunia.
SOFIA 2020 mencatat bahwa produksi perikanan global diperkirakan mencapai 179 juta ton pada tahun 2018 yang bersumber dari 96,4 juta ton perikanan tangkap dan 82,1 juta ton hasil budidaya. Terjadi peningkatan produksi perikanan sebesar 5,4% dibandingkan dengan rata-rata produksi 3 tahun terakhir. Peningkatan ini lebih banyak disebabkan oleh produksi perikanan tangkap laut yang mengalami peningkatan dari 81,2 juta ton tahun 2017 menjadi 84,4 juta ton tahun 2018. Jika ditelisik lebih jauh, peningkatan produksi perikanan tangkap laut dipicu oleh produksi ikan anchoveta (Engraulis ringens) dari Peru dan Chile yang cukup melimpah.
Tujuh negara terbesar (top seven) penghasil perikanan tangkap dunia adalah China, Indonesia, Peru, India, Rusia, USA, dan Vietnam. Produksi dari ketujuh negara tersebut mencakup 50% dari total produksi perikanan tangkap. Kontribusi China masih tertinggi yang mencapai 15%, sementara Indonesia tertinggi kedua dengan kontribusi sebesar 7%.
China sendiri sebenarnya telah mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi jumlah produksinya sejak tahun 2016, sehingga terjadi penurunan produksi dari rata-rata 13,8 juta ton (2015-2017) menjadi 12,7 juta ton tahun 2018. Meski telah mengalami penurunan, jumlah produksi China masih tetap yang tertinggi dibandingkan dengan negara-negara lainnya sejak tahun 1990an.
SOFIA 2020 memberi catatan khusus bagi Indonesia dimana produksi perikanan tangkap laut mengalami peningkatan dari 4 juta ton tahun 2000an menjadi 6,7 juta ton tahun 2018.
Total produksi perikanan dunia untuk ekspor tahun 2018 sebanyak 67 juta ton dengan nilai ekspor sebesar USD 164 miliar. China juga mencatatkan diri sebagai negara dengan nilai ekspor perikanan tertinggi dimana kontribusinya sebesar 14% diikuti Norwegia 7% dan Vietnam 5%. Indonesia tidak termasuk dalam 10 besar (top ten) negara eksportir perikanan dunia.
SOFIA 2020 juga melaporkan bahwa jumah kapal perikanan (fishing vessels) tahun 2018, dari perahu kecil tanpa motor hingga kapal perikanan besar skala industri, diperkirakan mencapai 4,56 juta unit. Jumlah ini menurun 2,8% dibandingkan dengan tahun 2016.
Di Indonesia, data statistik perikanan menunjukkan bahwa jumlah kapal perikanan tangkap Indonesia tahun 2016 sebanyak 544 ribu dimana 96% diantaranya merupakan kapal kecil berukuran dibawah 10 GT.
Sementara itu, jumlah stok ikan pada level keberlanjutan secara biologi (biologically sustainable level) mengalami penurunan dari 90% tahun 1974 menjadi 65,8% pada tahun 2017. Sebaliknya, persentase stok ikan pada level yang tidak berkelanjutan (biologically unsustainable level) meningkat dari 10% tahun 1974 menjadi 34,2% pada tahun 2017. Kontribusi terbesar stok ikan pada level yang tidak berkelanjutan (62,5%) berasal dari Perairan Laut Mediterania dan Laut Hitam.
Indonesia termasuk dalam Perairan Pasifik Barat Tengah (Western Central Pacific) dan Samudera Hindia timur (Eastern Indian Ocean) dimana keduanya berkontribusi relatif kecil terhadap stok ikan pada level tidak berkelanjutan.

Add comment