mataikan.com
Nelayan di tangkap dan aktivis mahasiswa yang merekam kejadian dianiaya oleh polisi

Nelayan di tangkap dan aktivis mahasiswa yang merekam kejadian dianiaya oleh polisi

Mataikan-Demonstrasi kembali di lakukan oleh nelayan dan aktivis mahasasiswa dalam rangka pengusiran kapal perusahaan boskalis, kali ini di dominasi oleh perempuan.

Ada 3 kapal jolloro serta 45 kapal lepa-lepa yang digunakan warga untuk mendekati kapal untuk meneriakkan protes mereka dengan membentangkan spanduk

Advokat publik dari LBH Makassar Edy Kurniawan menceritakan, kejadian ini berawal saat warga Kodingareng mengetahui kapal perusahaan kembali mengeruk pasir di wilayah tangkap nelayan pada pukul 06.00 Wita. Warga langsung bergegas menuju kapal tersebut.

“Kegiatan ini menimbulkan reaksi dari masyarakat dan nelayan Pulau Kodingareng,” ujar Edy.

Aksi itu, lanjut Edy, berhasil usai Kapal Boskalis meninggalkan lokasi tambang.

Tetapi, dalam perjalanan pulang tiba-tiba kapal nelayan di tabrak oleh speadboat polairud .

“Perahu nelayan kemudian ditabrak dan alat kendali perahu dirusak. Perahu terus didorong hingga penumpang dan nelayan yang ada di atas hampir terjatuh ke laut,” ujar Edy.

Polisi yang memepet kapal itu juga menarik paksa nelayan dan menangkap aktivis lingkungan yang sempat merekam penangkapan tersebut.

Tujuh nelayan yang ditangkap, kata Edy ialah Nawir, Asrul, Andi Saputra, Irwan, Mustakim, Nasar, dan Rijal. Sementara aktivis lingkungan yang ditangkap dengan kekerasan ialah Rahmat.

“Wajahnya dipukul dan leher diinjak serta handphone yang diapakai merekam jatuh ke laut saat hendak disita polisi,” kata Edy.

Hendra dari Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Unhas serta Mansur dan Raihan dari UPPM UMI juga ditangkap.

“Sebelum ditarik paksa, mahasiswa tersebut memperlihatkan kartu pers. Polisi tak menghiraukan dan tetap menangkap mahasiswa tersebut,” ucap Edy.

Add comment